Tabel Perbandingan Term Life vs Unit Link Tapro

Perbandingan produk asuransi Term Life (asuransi jiwa berjangka) dengan Unit Link (asuransi jiwa + investasi) merupakan suat hal yang unit dan menambah wawasn kita. Jika kita beberapa tulisan para pakar, antara lain Priyadi, Freddy Piellor, Aidil Akbar, dan Ligwina Hananto, yang membandingkan kedua produk ini. Namun sayangnya, mereka menggeneralisir seolah semua unit link sama dan mereka tidak membandingkan yang termurah dari jenisnya.

Setiap unit link yang dikemas dengan asuransi / proteksi ini lah yang sangat membedakan satu perusahaan asuransi 1 dengan perusahaan asuransi yang lain. Dalam hal ini digunaka hanya perusahaan asuransi yang paling layak ataupun yang baik dari yang terbaik.

Namun dari semua pakar dapat kita akui sebagian kritik mereka benar dan berdasarkan fakta. Tapi ada yang tidak relevan lagi sekarang, atau perlu diubah cara pandangnya.

Mari kita lihat dengan sudut pandang lain sehingga menghasilkan paradigma yang baru dan akan sangat bermanfaa. Dulu, para pakar itu membandingkan Unit Link dengan Term Life + Reksa Dana. Kali ini kita tidak mengunakan cara ini, karena hasilnya akan penuh dengan angka-angka yang didasarkan semata-mata pada asumsi. Asumsi investasi boleh sama, tapi hasilnya tiap orang pasti berbeda. Sama-sama menaruh uang di RD saham merek A pun, dua orang yang berbeda akan memperoleh retur yang berbeda.

Bandingkan Unit Link langsung head to head dengan Term Life sebagai sesama produk asuransi.

Perbandingan produk asuransi Term Life (asuransi jiwa berjangka) dengan Unit Link (asuransi jiwa + investasi) merupakan tantangan akademik yang menarik bagi saya. Saya mengikuti beberapa tulisan para pakar, antara lain Priyadi, Freddy Piellor, Aidil Akbar, dan Ligwina Hananto, yang membandingkan kedua produk ini. Namun sayangnya, mereka menggeneralisir seolah semua unit link sama dan mereka tidak membandingkan yang termurah dari jenisnya.

Saya juga memperhatikan, para kritikus Unit Link berikutnya hanya mengulang-ulang poin-poin yang dikemukakan para pakar di atas. Saya akui sebagian kritik mereka benar dan berdasarkan fakta. Tapi ada yang tidak relevan lagi sekarang, atau perlu diubah cara pandangnya.

Melalui tabel di bawah ini, saya mengajukan sebuah pembaruan cara perbandingan. Dulu, para pakar itu membandingkan Unit Link dengan Term Life + Reksa Dana. Saya menghindari cara begini, karena hasilnya akan penuh dengan angka-angka yang didasarkan semata-mata pada asumsi. Asumsi investasi boleh sama, tapi hasilnya tiap orang pasti berbeda. Sama-sama menaruh uang di RD saham merek A pun, dua orang yang berbeda akan memperoleh retur yang berbeda.

Saya membandingkan Unit Link langsung head to head dengan Term Life sebagai sesama produk asuransi. Unit Link-nya saya ambil contoh dari produk yang saya jual (Tapro), dan Term Life-nya saya sarikan dari beberapa produk yang menurut pantauan saya paling murah di jenisnya.

Karena saya agen asuransi Tapro, mungkin ada bias dalam perbandingan saya. Tapi pembaca silakan nilai sendiri tingkat objektivitas saya. Secara akademis maupun praktis, saya bermaksud memberikan edukasi yang lebih adil kepada para pencari asuransi. Jika ada yang keliru dalam perbandingan ini, silakan sampaikan. Terima kasih.

tabel-perbandingan-term-life-vs-tapro

Catatan untuk yang diwarnai biru dan diberi nomor:

  1. Perlu diketahui bahwa term life dengan tenor (masa pembayaran) pendek (1, 5 tahun) akan lebih murah preminya atau lebih besar UP-nya dibanding tenor panjang. Saya tidak menggunakan tenor pendek karena momen perpanjangannya akan terjadi berkali-kali sehingga kenaikan preminya jadi lebih sering. Selain itu, secara total, tenor 20 tahun lebih murah daripada misalnya ambil tenor 4 x 5 tahun.
  2. Masa bayar di unit link tergantung hasil investasi. Jika investasi tinggi atau sedang, masa bayar bisa pendek. Jika investasi buruk, masa bayar lebih panjang. Selama ini rata-rata hasil investasi tidak tergolong buruk. Kejadian semisal krisis global 2008 bukanlah peristiwa yang terjadi tiap tahun. Tidak perlu khawatir berlebihan.
  3. Sebagian besar term life ada garansi perpanjangan tanpa cek kesehatan lagi, tapi tidak semua. Jadi pastikan klausul penting ini sebelum mengambil produk term life.
  4. Unsur proteksi jiwa pada unit link disebut YRT (Yearly Term Renewability), term life tahunan dengan garansi perpanjangan otomatis tanpa cek kesehatan sampai batas waktu yang dijanjikan dalam polis (biasanya sampai usia 99 tahun).
  5. up 1 miliar untuk pria usia di bawah 41 tahun tidak dikenakan tes medis. Selengkapnya lihat tabel batasan tes medis di sini.
  6. Sebagian produk term life ada yang punya rider penyakit kritis. Tapi rider ini tampaknya kurang diminati karena jika usia masuk masih muda, kecil peluangnya bahwa selama masa kontrak (10 atau 20 tahun, apalagi jika 5 tahun) akan terkena sakit kritis.
  7. Term life di perusahaan asuransi umum biasanya belum syariah. Term life syariah hanya ada di perusahaan asuransi murni syariah. Sedangkan produk unit link, rata-rata perusahaan asuransi sudah menyediakan baik yang konvensional maupun syariah.
  8. Cara pembayaran premi term life umumnya tahunan. Ada yang bisa semesteran, tapi preminya akan sedikit lebih mahal. Yang bulanan jarang, itu pun ada syarat dan ketentuan tersendiri, misalnya bayarnya harus lewat kartu kredit. Maklumlah, manusia tidak luput dari sifat lupa, dan perusahaan harus memastikan nasabah tetap membayar premi tanpa terlupa satu kali pun. Di unit link, nasabah yang lupa bayar premi tidak usah khawatir karena biaya asuransi tinggal dipotong dari nilai investasi.
  9. Berlawanan dengan pendapat para kritikus unit link, yang menganggap unit link mahal dan karena itu hanya cocok untuk orang kaya, perbandingan ini justru menunjukkan sebaliknya. Dan fakta di lapangan pun menunjukkan, sejak adanya unit link, banyak orang berpenghasilan sedang bisa punya asuransi.
  10. Lagi, berlawanan dengan pendapat para kritikus unit link, justru melalui unit link-lah masyarakat bisa berinvestasi lebih awal. Di samping pada unit link-nya sendiri sudah ada sebagian dana yang diinvestasikan, selisih dana yang tersedia karena dia bayar bulanan memungkinkan nasabah berinvestasi seawal mungkin tanpa harus menabung lagi agar punya uang lebih.
  11. Lupa dalam keadaan punya uang masih terampuni. Polis term life yang sudah lapse bisa dipulihkan walaupun dengan denda. Tapi “lupa” karena tidak punya uang (dan itu mungkin, namanya manusia hidup tidak selalu jaya) sulit memulihkannya. Di unit link, jika di tengah jalan peserta mengalami kesulitan uang dan tidak bisa membayar untuk sementara, polisnya masih tetap aktif karena ada nilai investasi yang akan membayari biaya-biaya asuransi.
  12. Fasilitas cuti premi mulai berlaku di tahun ketiga.
  13. Penarikan dana harus menyisakan saldo minimal 2 juta rupiah agar polis tetap berlaku.

Perbandingan Lain

Tabel di atas adalah perbandingan jika yang diambil hanya proteksi jiwa, tanpa rider. Pada kenyataannya, jarang orang mengambil unit link hanya UP jiwanya. Mereka akan mengambil pula beberapa rider, misalnya ADDB (cacat dan meninggal karena kecelakaan), penyakit kritis, TPD (cacat tetap total), payor, dan perawatan rumah sakit. Jika diperlukan, masih ada rider spouse payor, parent payor, dll.

Di antara rider itu, hanya ADDB yang bisa diperbandingkan secara adil antara unit link dan term life, sebab manfaatnya persis sama. Yang lain-lainnya tidak bisa.

Rider penyakit kritis sulit dibandingkan, karena ada term life yang bisa dipasangi rider ini ada pula yang tidak. Kalaupun bisa, akan ada perbedaan misalnya di jumlah penyakit kritis yang dikover dan kriteria kondisi kritis. Lalu ada penyakit kritis yang klaimnya mengurangi UP jiwa, ada yang tidak. Semua itu harus betul-betul sama jika ingin membandingkan.

Rider TPD sepertinya bisa dibandingkan, tapi tidak banyak produk term life yang memiliki rider ini.

Rider perawatan rumah sakit juga sulit dibandingkan, karena rincian manfaatnya akan berbeda. Misalnya, rider Flexicare Family di Tapro, dia menanggung biaya rawat inap karena sakit, rawat inap karena kecelakaan, pembedahan karena sakit, pembedahan karena kecelakaan, biaya penyembuhan karena sakit jika dirawat lebih dari 30 hari, biaya penyembuhan karena kecelakaan jika dirawat lebih dari 30 hari. Adakah yang serupa manfaatnya dengan ini? Detail lain juga akan berbeda, seperti minimal boleh klaim rawat inap, maksimal lamanya perawatan per tahun, masa tunggu penyakit yang ada sebelumnya, dan kriteria pembedahan.

Rider payor benefit pun tidak bisa dibandingkan dengan rider waiver of premium. Payor benefit bukan hanya bebas premi, tapi juga ada tabungan otomatis. Kriteria diberikannya manfaat rider ini pun bisa jadi berbeda, ada yang hanya karena penyakit kritis, hanya karena cacat tetap total, atau karena kedua-duanya.

Untuk yang tidak bisa dibandingkan, saya tidak akan mencoba membandingkan. Priyadi, misalnya, mereplikasikan manfaat payor dengan meninggikan UP penyakit kritis. Ini tidak akan persis. Apalagi manfaat payor di Tapro bukan hanya disebabkan sakit kritis, tapi juga karena cacat tetap total.

Oleh karena itu, pada kesempatan lain saya hanya akan membuat satu tabel perbandingan lagi, yaitu jika pria 30 tahun tersebut mengambil manfaat UP jiwa 1 Miliar + ADDB 500 Juta. Kenapa ADDB-nya cuma 500 juta, karena ADDB 1 M pernah saya ulas di tulisan berjudul

1 comment:

  1. 1. Pertama biaya Tapro lebih mahal Rp 1,2 juta, dimana uang 1,2 juta nya bisa diinvestasikan lbh baik dan bebas (tidak terikat)

    2. Kebutuhan asuransi jiwa adalah untuk mencover bila meninggal maka masih bisa melindungi keluarga dari sisi finansial, setelah umur 60-70 tahun tidak perlu lagi karena pada saat itu harusnya anak anak sudah lebih mandiri.

    3. dan mohon diingat bahwa ini untuk asuransi jiwa .. comment no. 22, 23, dan 25 memang tidak akan terjadi karena harusnya punya simpanan investasi yang Rp 1.2 juta per tahun.

    ReplyDelete